Hari ini adalah hari yang melelahkan. Betapa tidak? Mencari solusi bagaimana agar ArcGIS 9.3.1 dapat digunakan untuk membuka project MXD yang dibuat oleh versi sebelumnya.
Kecurigaan pertama muncul terhadap Virus RECYCLER yang sempat bersarang di Notebook selama kurang lebih tiga hari. Ya, saya memang cukup dipusingkan oleh ulah virus ini. Sempat terpikir mau restore menggunakan ghost, cara yang biasa saya lakukan kalau Win sudah lambat. Namun mengingat masih ada pelatihan GIS di Dinas Pertambangan Kabupaten Tabalong dan beberapa pekerjaan penting yang mendesak akhirnya saya biarkan saja Virus itu bersarang. Toh selama ini juga ulahnya masih dapat dimonitor dengan rajin mendeletenya menggunakan pengaturan VIEW serta sedikit command ATTRIB.
Setelah merasa sedikit luang, akhirnya file GHOST saya timpakan ke Drive C. Sang virus pun pergi. Smadav yang katanya ampuh untuk membasmi VIRLOK tidak saya gunakan karena merasa kurang familiar saja. Ya daripada coba-coba mendingan langsung gunakan ghost.
Upgrade ArcGIS 9.3 ke 9.3.1 dan instal XTools Pro 5.2 pun dilakukan. Saya merasa tidak nyaman saja menggunakan Versi 9.3 sementara ada versi yang lebih update. Padahal mah, saya juga tidak tahu apa sih keunggulan versi terbaru tersebut Dasar manusia tidak pernah puas. Namun apa daya, project MXD yang dibuat oleh versi ArcGIS sebelumnya masih belum bisa dibuka. Wah… sia-sia melakukan ghost.
Coba-coba buka project MXD di preview ArcCatalog. Cling… ArcCatalog dapat menampilkan project MXD dengan benar, tetapi hanya di jendela preview saja. Terpikir siapa tahu ArcCatalog dapat memanipulasi agar project MXD versi 9.3 dan sebelumnya dapat menjadi versi 9.3.1, akhirnya saya lakukan pengaturan Data Sources. Pengaturan ini akan menghasilkan file project MXD baru yang menurut asumsi saya sudah otomatis menjadi versi 9.3.1 karena ArcCatalog yang digunakan juga versi 9.3.1.
Syukurlah cara ini berhasil. Memang ini bukanlah suatu pemecahan masalah / solusi. Tapi paling tidak project-project MXD yang saya buat sebelum upgrade ke 9.3.1 dapat tetap terbuka tanpa menghilangkan XTools Pro 5.2.
Tertarik dengan Keyboard PSR 223, akhirnya saya memutuskan untuk membelinya di Garmedia Duta Mall, Banjarmasin.
Sebelumnya saya melakukan research dulu ke beberapa toko yang menjual barang sejenis dan selevel. Saya memang tidak ahli memainkan keyboard sehingga yang diperlukan adalah entry level alias untuk pemula lah. Tapi kualitas dan fungsionalitas juga menjadi perhatian saya. Keyboard seharga 4 – 11 juta memang sangat menarik mata, tapi tentunya harus realistis lah. Masa cuma untuk menyalurkan hobby harus membeli yang kelas expert.
Setelah diskusi dengan istri, akhirnya kami berempat beramai-ramai ke Duta Mall yang hampir tiap minggu kami kunjungi. Setelah menyalurkan hobby bercuap-cuap di tempat Family Karaoke, kami pun mendatangi Gramedia. Saat ini harga PSR 223 di Gramedia Duta Mall adalah 2,1 Jt, sedangkan di Toko Music yang lain sekitar 2,3 Jt. Katanya sih Stand Musik di Gramedia memiliki kerjasama bla bla bla dengan Yamaha.
Kesan saya terhadap Yamaha PSR 223 cukup memuaskan lah. Berbagai fasilitas dasar sudah tersedia seperti:
- Berbagai tipe Style
- Berbagai tipe Tone
- Tersedia fasiltias belajar
- Seperti Keyboard Yamaha lainnya, saat kita menekan kord tertentu akan muncul di layar kord apa yang sedang kita buat.
Sambil makan malam dengan anak istri saya berseloroh, Keyboard PSR 233 – yang merupakan barang saya – itu tidak lebih mahal dari PSP kepunyaan akhtar lho.
“Yang justru lebih mahal adalah gadget mama” kata saya sambil mengajungkan jemari.
Bagi pemula seperti saya, PSR 223 sudah lebih dari cukup.
Saya mendapat ‘teguran’ dari pimpinan karena telah memberikan informasi bahwa ada kawasan hutan yang dapat dimanfaatkan untuk Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada Hutan Tanaman. Sesuatu yang lucu saya pikir. Mengapa?
Dalam banyak diskusi dan pembicaraan dengan beliau saya selalu mengemukakan bahwa kita harus terbuka. Sebagai suatu institusi daerah, kita sebenarnya bersaing dengan pemerintah-pemerintah daerah yang lain untuk menarik investasi. Satu-satunya cara agar hutan (dan kawasan hutan) lebih terjaga adalah dengan menempatkan pengelola dalam lingkup Forest Management Unit atau KPH. Menunggu KPH yang masih mencari bentuk dan komitmen, alangkah baiknya Kawasan Hutan Produksi yang masih belum dibebani hak kita promosikan ke para pengusaha. Jangan justru sebaliknya disembunyikan.
Berangkat dari paradigma yang saya percaya benar tersebut, setiap kali ada pengusaha yang sneaking ke kantor bisik-bisik mencari informasi areal untuk HTI, saya berkata "Tidak perlu bisik-bisik, akan saya beri tahu berapa dan di mana yang prospek untuk HTI". Tentu saja jika mau informasi dalam bentuk peta biasanya saja minta yang bersangkutan menghadap boss dulu. Tetapi kalau cuma lokasi dan luasan kasar akan saya berikan informasikan langsung.
Contoh yang lain banyak sekali yang menyiratkan mahalnya sebuah informasi. Namun menurut saya, sebagian besar kasus harusnya informasi spasial diberikan secara free khususnya data spasial yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang dibiayai oleh negara. Sebagai contoh adalah hasil interpretasi citra yang dilakukan rekan-rekan di BPKH. Logikanya, kegiatan yang dibiayai oleh negara seharusnya hasilnya adalah milik negara yang harus kembali kepada publik.
Pengecualian tentu saja bisa dilakukan per kasus. Misalnya, suatu perusahaan melakukan studi atau pengumpulan data spasial di suatu wilayah. Otomatis karena studi dibiayai oleh perusahaan, maka hasilnya pun menjadi miliki perusahaan. Orang atau institusi lain harus bayar untuk mendapatkan informasi spasial tersebut, itu pun kalau management membolehkannya keluar.
Saya punya angan-angan tentang bagaimana informasi spasial itu dapat digunakan secara maksimal untuk pembangunan bangsa ini. Data publik harus dikembalikan kepada publik. Data hasil pengukuran cuaca oleh BMG harus open akses. Data hasil pengukuran debit air oleh instansi terkait harus open akses. Peta-peta dasar ataupun tematik harus gratis, paling tidak yang dicharge hanya biaya pencetakan atau media softcopy. Hasil-hasil studi spasial yang dibiayai oleh APBN ataupun APBD harus dipublikasikan seluas-luasnya. Dengan begitu maka akan banyak sisi positif sebagai berikut:
Ada check and balance. Data-data spasial yang keliru akan lebih cepat terdeteksi. Selanjutnya perbaikan pun akan cepat dilakukan.
Studi-studi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga riset atau siapa pun dapat menggunakan data-data standar yang sama.
Penghematan biaya. Jika data-data sekunder sudah tersedia dengan gratis, tidak perlu lagi dilakukan pengambilan data spasial yang sama dan berulang oleh berbagai studi. Di sini harus dilihat penghematan secara ekonomi atau agregat kita sebagai suatu negara.
dsb
Mungkin pembaca akan mengcounter apa yang saya kemukakan dengan argumen bahwa "Ah kalau begitu konsultan kerjanya ngapain? Kan semua data sudah ada". Justru di sinilah kemudahannya untuk memonitor bagaimana suatu studi dapat secara efektif memberi nilai tambah. Jika kita semua sudah tahu data-data dasar sudah tersedia akan sangat mudah untuk mengetahui apakah suatu studi memberi nilai tambah atau tidak. Toh selama ini, maaf, mungkin sebagian besar pekerjaan konsultan adalah cuma hunting data. Dengan cara sneaking itu tadi. Setelah semua terkumpul tinggal buatkan kembali peta yang sama. Selesai.
Saya pernah baca di salah satu buku pegangan, lupa judulnya, bahwa komponen termahal dari GIS sekarang ini adalah ware (hard dan soft). Tapi tidak lama lagi komponen data lah yang akan lebih menyedot belanja GIS. Saya setuju dengan hal tersebut. Tetapi jika data/informasi spasial yang dibiaya oleh negara harusnya tersedia bagi publik, tidak disembunyikan, yang perlu kesaktian luar biasa untuk memperolehnya.
Mungkin Artikel-Artikel saya di www.raharjo.org tentang cara download/memproses Citra Landsat dan pembuatan basemap Garmin membuat beberapa rekan-rekan konsultan merasa jengkel karena paling tidak beberapa pekerjaan yang sedianya dikerjakan oleh pihak konsultan telah banyak dilakukan oleh instansi/lembaga yang membutuhkan sendiri.
Saya cuma bisa memohon pengertiannya karena apa yang saya percaya sekarang ini adalah bahwa pengetahuan kita (baca:saya) tentang GIS masih sangat dangkal. Cara agar kita lebih pintar adalah dengan berbagi dengan yang lain. Dengan begitu ada saja pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang tidak pernah kita bayangkan yang pada akhirnya menuntut kita untuk meningkatkan pemahaman kita.
Soal pekerjaan, jangan khawatir, dengan berbagi kita tidak akan kekurangan pekerjaan. Malah justru menurut saya semakin banyak. Sebagai contoh sekarang ini saya sedang melakukan download dan selanjutnya memproses citra Landsat liputan Jawa Tengah dari seseorang yang saya tidak kenal sebelumnya. Nominal memang tidak besar dan tidak etis juga dibicarakan di sini. Yang jelas yang ingin saya tekankan adalah bahwa kita tidak perlu takut kekurangan pekerjaan dengan berbagi apa yang kita tahu.
Sembari menunggui rumah melek setelah semalam disatroni maling, saya sempatkan diri memutar film yang sedang heboh di infotainment; 2012. Sebuah film yang katanya mengupas tentang kiamat. Saya tidak akan membahas tentang kiamatnya itu sendiri karena bagi saya sudah jelas tidak akan ada orang yang bisa memprediksikannya. Namun saya hanya ingin membagi pandangan saya tentang bagaimana film ini dikemas.
Tadi dini hari (23/11/2009), maling menyatroni rumah. Tak biasanya saya berangkat tidur jam setengah dua pagi. Biasanya sampai jam tiga atau empat saya masih melek. Namun malam itu karena agak sedikit pilek, saya putuskan untuk meminum Flutamol dan tidur. Hhujan deras yang dingin menambah lelapnya tidur.
Di tengah lelapnya tidur, istriku yang tidur di depan TV dengan anak-anak dan Bibi berteriak. “Papa..papa… ada orang“.
Saya reflek bangun berlari keluar kamar dan bertanya “Mana.. mana…“.
“Itu kata Bibi ada orang masuk dapur“.
Antara bangun dan tidak, saya lari ke dapur dan teriak “Woi…Woi…!!!“
Setelah sadar sepenuhnya, saya tanya Bibi bagaimana ceritanya. Katanya, Bibi mendengar ada yang membuka pintu dan yang menghubungkan dapur dan ruang tengah. Memang biasanya kalau malam-malam saya ke dapur, saat membuka pintu, bibi selalu terbangun. Dia memang kebagian jatah antara Alisha dan pintu dapur. Setelah melihat yang membuka pintu malah balik menarik kepalanya dan pergi kembali ke dapur, Bibi jadi heran dan memutuskan melihat saya di kamar, ingin cek apakah itu saya atau bukan. Setelah mendapati saya ada tidur di kamar, Bibi pun membangunkan istri saya.
Kunci jendela pecah karena mungkin terbongkar paksa dari luar. Kebetulan jendela di dapur masih baru sehingga belum dipasang teralis.
Kami pun mengecek barang-barang. Ternyata si maling sudah mengumpulkan telenan (chop-board), panci, dan tiga buah gelas di luar di bawah jendela dapur. Barang-barang tersebut memang ada di tempat cucian piring yang persisi di dekat jendela. Rupanya si maling tidak puas hanya dengan menjulurkan tangannya. Setelah yakin aman, dia memutuskan untuk masuk sekalian. Keinginannya untuk mendapatkan yang lebih besar begitu kentara karena barang-barang di dapur seperti radi-tape, dan tas punya Bibi belum tersentuh. Sepertinya dia kebelet ingin masuk ke rumah mengharapkan ada barang-barang yang lebih berharga. Sayang pintu dapur yang memang selalu bunyi jika dibuka telah membangunkan Bibi.
Mendapat kejadian ini, jadi termenung sendiri. Mungkin penghasilan saya selama ini belum dizakati? Niatan untuk tidak memagari rumah (agar tidak seperti di penjara) akhirnya buyar. Saya sekarang berniat memagari rumah demi keamanan. Kalau malingnya cuma ambil barang-barang sih tidak begitu masalah, tetapi kalau-kalau sudah berbuat nekat terhadap tuan rumah… ini yang bahaya.
Sejak sore tadi saya sudah online mengatur website jualan istri di www.martapura.org dan sembari menunggu tidak lupa mengelola blog sendiri di www.raharjo.org dan www.beniraharjo.wordpress.com. Tiba-tiba, Hujan yang dari sore hari turun rintik-rintik tiba-tiba berubah menjadi deras sekali. Atap rumah yang terbuat dari metal semakin membuat sensasi deerasnya hujan lebih hebat.
Setelah mengecek seluruh isi rumah, barangkali ada yang bocor, saya kembali duduk di depan komputer dan melanjutkan pekerjaan. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk cek koneksi. Dari rumah, saya nembak sejauh 3km (pakai GPS lho) ke antena sektoral punya Bagusnet. Dengan turunnya hujan otomatis banyak partikel di udara (aerosol) dari air hujan. Apakah koneksi lancar?
Ternyata koneksi internet aman-aman saja. Padahal, kalau siang hari sering terjadi penurunan yang lumayan. Saya pikir aerosol sangat berarti sekali terlebih jarak yang harus ditempuh sejauh 3 km dari rumah ke antena terdekat.
Sepertinya jumlah user yang menggunakan internet lebih mempengaruhi kecepatan daripada partikel-partikel di udara termasuk tetes air hujan yang deras sekali seperti yang sekarang ini sedang terjadi.
Terima kasih bagusnet atas lancarnya koneksi belakangan ini. Semoga selanjutnya terus lancar.
Sebagai pengguna wordpress, saya belum pernah menggunakan fitur post by email yang sudah lama ada. Di web utama saya http://www.raharjo.org, saya tidak belummencoba-coba fasilitas tersebut. Karena memiliki akun ‘dorman’ di wordpress.com, akhirnya saya mencoba menggunakan blog beniraharjo.wordpress.com sebagai arena coba-coba mengirim Post by email.
Saya pikir ini adalah fitur yang cukup memudahkan blogger aktif. Tidak perlu buka dan login untuk mendapatkan halaman admin yang terkadang cukup merepotkan. Cukup menggunakan email (yang pastinya lebih sering dibuka dibandingkan halaman admin) dan buat email berisi post yang akan dibuat.
Tentu saja untuk mendapatkan format yang sesuai kita harus mengikuti aturan yang dibuat oleh wordpress.com seperti bagaimana mengaddress kategori dan tag.
A friend of mine asked my help about one thing. He told me that his computer had been hijacked by virus. The symptom was his Microsoft word documents (DOCs) appeared weird with many codes that he did not understand. He could not see any formulas and or pictures in it. Continue Reading »